PEDALANGAN

PAKEM DAN LAKON PEWAYANGAN

 

Lakon-lakon pewayangan itu adalah bagian pokok dari pada pergelaran seni pedalangan, baik untuk waktu semalam suntuk maupun untuk 4 jam atau mungkin hanya waktu 2 jam, namun lakon tersebut kedudukannya tetap, ialah merupakan pokok dari pada pergelaran seni pedalangan.

Membicarakan tentang lakon-lakon pewayangan, disengaja atau tidak disengaja, tentulah menyangkut apa yang disebut “pakem” yang dalam bahasa Jawa berarti: pathokan, paugeran atau wewaton.  

Semua itu merupakan “pedoman” yang tak dapat diabaikan sama sekali. Yang disebut pakem itu meliputi 2 macam hal yang dalam pergelaran terpadu menjadi satu kesatuan, ialah : (1). Pakem tentang lakon; dan (2). Pakem yang mengenai tehnik perkeliran.

Pada waktu dipergelarkan dalam perkeliran dua pakem itu satu sama lain saling isi-mengisi dan jalin-menjalin, sehingga dapat mendatangkan suatu proses ceritera yang mengandung keindahan serta pendidikan yang tinggi.

 

LAKON-LAKON PEWAYANGAN

Lakon-lakon pewayangan yang begitu banyak dipergelarkan dewasa ini, pada hakekatnya dapat dibagi menjadi 4 bagian, ialah: 1. Lakon wayang yang disebut pakem; 2. Lakon wayang yang disebut carangan; 3. Lakon wayang yang disebut gubahan; 4. Lakon wayang yang disebut karangan.

Perinciannya sebagai berikut :

1.     Lakon pakem : yang disebut lakon-lakon pakem itu sebagian besar ceriteranya mengambil dari sumber-sumber ceritera dari perpustakaan wayang, misalnya : lakon Bale Sigala-gala, pandawa dadu, baratayuda, rama gandrung, subali lena, anoman duta, brubuh ngalengka dll.

2.     Lakon carangan : yang disebut carangan itu hanya garis pokoknya saja yang bersumber pada perpustakaan wayang, diberi tambahan atau bumbu-bumbu berupa carangan (carang Jw = dahan), seperti lakon-lakon : babad alas mertani, partakrama, aji narantaka, abimanyu lahir dll.

3.     Lakon gubahan : yang disebut gubahan itu ialah lakon yang tidak bersumber pada buku-buku ceritera wayang, tetapi hanya menggunakan nama dan negara-negara dari tokoh-tokoh yang termuat dalam buku-buku ceritera wayang, misalnya lakon-lakon: irawan Bagna, gambiranom, dewa amral, dewa katong dsb.

4.     Lakon karangan : yang disebut lakon karangan itu ialah suatu lakon yang sama sekali lepas dari ceritera wayang yang terdapat dalam buku-buku sumber ceritera wayang, misalnya lakon-lakon : praja binangun, linggarjati, dsb. Dalam lakon praja binangun tersebut diketengahkan nama tokoh-tokoh wayang seperti : ratadahana (Jendral Spoor), Kala Miyara (Meiyer), Dewi Saptawulan (Juliana), Bumiandap (Nederland) dsb.

Perlu pula diketahui bahwa lakon-lakon wayang yang disebut carangan, gubahan dan karangan itu, banyak juga lakon yang merupakan kiasan, misalnya : Lakon babad alas mertani mengandung kias assimilasi (perkawinan) falsafah Hindu dan Jawa. Demikian pula lakon-lakon seperti : pandawa Pitu, Pandawa Sanga, senggana racut dsb itu berisi kias dan maksud mengenai ilmu kebatinan (baca: kejawen).

SUMBER CERITERA WAYANG

Untuk mengetahui sesuatu lakon wayang itu apakah pakem atau bukan, tidaklah mudah, apabila orang tidak mengenal dan memahami sumber ceritera wayang.

Adapun sumber ceritera wayang itu ada 2 macam, ialah :

1.     Sumber-sumber ceritera wayang yang berupa buku-buku, misalnya : Maha Bharata, Ramayana, Pustaka Raja Purwa, Purwakanda dll.

2.     Sumber-sumber ceritera wayang yang semula berasal dari lakon carangan atau gubahan yang telah lama disukai oleh masyarakat. Sumber-sumber ceritera ini disebut “pakem purwa-carita” yang kini sudah banyak juga yang dibukukan, misalnya lakon-lakon: Abimanyu kerem, doraweca, Suryatmaja maling dlsb.

Perlu diketahui pula bahwa dalam hal sumber-sumber ceritera wayang inipun, seringkali terdapat cemooh-mencemooh satu sama lain. Asa yang beranggapan, bahwa hanya “serat pustaka raja” itu sajalah yang benar. Ada lagi yang berpendapat, bahwa hanya ‘serat purwakanda” itu saja yang benar dlsb. Anggapan-anggapan dan pendapat-pendapat yang demikian itu disebabkan oleh pengaruh adopsi ceritera wayang itu telah lama dan mendalam, sehingga menimbulkan keyakinan bahwa ceritera wayang yang dimuat dalam buku sumber ceritera wayang tersebut benar-benar ada dan terjadi dinegara kita ini. Padahal kalau ditilik dari sejarahnya, induk/sumber ceritera wayang itu, baik ramayana maupum maha bharata, kedua-duanya itu merupakan weda (kitab suci) agama hindu yang kelima, yang disebut panca weda. Kedua kitab tersebut memuat pelajaran weda yang disusun berujud ceritera.

Serat ramayana diciptakan oleh resi walmiki menceriterakan pelaksanaan karya Awatara Rama untuk mensejahterakan dunia. Serat Maha Bharata diciptakan oleh Resi Wyasa, menceriterakan pelaksanaan karya Awatara Krisna juga untuk mensejahterakan dunia.

SERAT PURWAKANDA

Mungkin diantara para pembaca ada yang baru sekali ini mendengar adanya “purwakanda”, sebab buku “purwakanda” itu sampai sekarang belum pernah dicetak serta beredar dalam masyarakat seperti “Pustaka raja purwa” dll.

purwakanda” itu adalah salah satu sumber ceritera wayang di Yogyakarta yang memuat kisah sejak bathara guru menerima kekuasaan dari sanghyang tunggal sampai dengan bertahtanya R. Yudayana sebagai Raja di negeri Ngastina. Buku tersebut berbentuk tembang dan yang ada mungkin hanya di Yogyakarta saja, baik dalam karaton maupun diluarnya. Menurut kata orang yang mengetahui, ‘serat purwakanda” tersebut dihimpun atas perintah almarhum Sri Sultan Hamengkubuwono V

Penghimpunan dan penyusunan Serat Purwakanda ini kira-kira bersamaan waktunya dengan almarhum R.Ng.Ronggowarsita di SOLO,yang juga menghimpun dan menyusun Serat Pustaka Raja Purwasita yang terkenal itu. Serat purwakanda tesebut oleh sebagian dalang-dalang di Yogyakarta, terutama dalang-dalang dari keraton Yogyakarta dijadikan sumber lakon-lakon wayang dalam perkelirannya,sedangkan di Solo adalah Serat Raja Purwasito.

PAKEM TEHNIK PERKELIRAN  

Pakem tehnik perkeliran atau wewaton tehnik perkeliran itu setiap daerah atau setiap gaya tentu ada dan sudah barang tentu tidak dapat diabaikan sama sekali. Hal itu erat sekali hubungannya dengan perasaan indah yang hidup di masing-masing daerah. Misalnya perkeliran gaya sala berbeda dengan gaya yogya. Berbeda pula dengan gaya banyumas, tegal, jawa timur, dll. Mungkin hal ini pula sangkut-pautnya dengan falsafah hidup dalam masyarakat itu sendiri-sendiri.  

Maka dari itu uraian tentang pakem atau wewaton tehnik perkeliran, pada kesempatan ini kami batasi dengan hanya mengemukakan wewaton tehnik perkeliran menurut seni pedalangan gaya Yogyakarta.

Pergelaran seni pedalangan gaya Yogyakarta yang diperkelirkan semalam suntuk itu, pada dasarnya terbagi dalam 3 bagian yang besar, ialah:

1.      Permulaan pergelaran dengan “pathet lasem” yang sering juga disebut “pathet nem”.

2.      Lalu disusul dengan “pathet sanga” ; dan

3.      Kemudian dengan “pathet manyura” , yang pada akhir pathet mayura ini disebut “galong” (pada waktu fajar menyingsing).

 

WEWATON-WEWATON PADA TIAP-TIAP BAGIAN (PATHET)

Pertama : Dalam “pathet lasem” harus ada dua jejeran (adegan) dan dua peparangan yang diiringi dengan gending-gending pathet lasem. Jejeran pertama diiringi gending karawitan. Jejeran kedua gending iringannya tidak ditentukan, sehingga Ki dalang bebas memilih gending apa yang dipakai sebagai iringan, tetapi haruslah gending-gending “pathet nem”.

Kiranya perlu diketahui pula, bahwa adegan “Gupitmandragini” (kedatonan) dan adegan paseban-njawi adalah rangkaian dari pada jejeran.

Dua adegan perang dalam bagian permulaan disebut ‘perang ampyak” dan “perang simpangan”. Perang ampyak menggambarkan rampongan meratakan jalan, dipergelarkan pada akhir jejeran pertama. Sedangkan perang simpangan ialah peperangan setelah jejeran yang kedua.

Apabila pada jejeran pertama ada tamu, yang kemudian berperang, perang ini disebut “perang kembang”. Kalau ada perang kembang, perang ampyak harus ditiadakan. Jadi dalam pathet lasem tetap hanya ada dua macam perang.

Kemudian pada akhir pathet lasem ada jejeran lagi ialah jejeran yang ketiga. Jejeran yang ketiga ini diiringi gending-gending pathet lasem yang yang bersifat peralihan. Misalnya gending “bondet” atau gending-gending lain yang “ber-gong jangga dan lima”. Sebab setelah gending suwuk, Ki dalang harus lagon pathet sanga. Jejeran yang ketiga ini disusul dengan adegan perang yang disebut “perang gagal”.

Mulai dari perang kembang sampai dengan perang gagal itu, menurut wewaton tidak diperbolehkan ada peranan yang mati. Disamping itu dalam pathet lasem juga tidak diperbolehkan adanya “gladangan” (adegan yang tidak diiringi gending).

Kedua : Dalam “pathet sanga”, setelah suwuk gending peralihan, bagian pertama (pathet lasem) telah selesai, maka pergelaran menginjak bagian yang kedua ialah “pathet sanga”. Dan perang gagal itu kemudian disambung dengan “gara-gara”.

Dalam pathet sanga ini harus ada dua jejeran dan dua adegan perang yang diiringi dengan gending pathet sanga, kemudian gending pathet sanga yang bersifat peralihan ke pathet manyura. Kedua jejeran tersebut yang pertama : merupakan jejeran yang keempat dari pada pergelaran seluruhnya, sedang jejeran yang kedua: yang diiringi dengan gending pathet sanga peralihan merupakan jejeran yang kelima. Adapun gending-gending pathet sanga peralihan ialah gending “renyep” dlsb yang ber-“gong jangga”.

Jejeran keempat tersebut diperkelirkan setelah gara-gara dengan iringan gending yang tidak ditentukan. Ki dalang bebas memilih gending untuk mengiringi adegan ini. Adapun dua adegan perang dalam pathet sanga itu ialah “perang gagal” seperti tersebut diatas dan “perang begal” yang dipergelarkan setelah jejeran yang keempat. Di dalam pergelkaran perang begal ini baru boleh ada yang mati. Dan setelah perang begal ini Ki dalang boleh mempergelarkan adegan dengan “gladagan”. Setelah perang begal, lalu disambung dengan jejeran yang kelima seperti tersebut diatas.

Ketiga : dalam “pethet mayura” ada dua jejeran dan tiga adegan perang ialah jejeran yang keenam dan ketujuh serta adegan perang yang kelima, keenam dan ketujuh dari pergelaran keseluruhannya. Ketiga adegan perang tersebut disebut “perang tanggung”, “perang tandang” dan “perang ageng”. Perang tanggung itu dipergelarkan setelah jejeran yang kelima. Jadi perang ini merupakan awalan dari pathet mayura. Sedangkan perang yang keenam ialah perang tandang, dipergelarkan setelah jejeran yang keenam. Adapun perang yang ketujuh dan terakhir, yang disebut perang ageng itu, dipergelarkan pada akhiran pathet mayura yang disebut “galong”.

Jadi wewaton tehnik perkeliran seni pendalangan semalam suntuk gaya Yogyakarta itu pada dasarnya terbagi menjadi 3 bagian yang ada pergelarannya terdiri dari 7 jejeran dan 7 adegan perang.

MAKNA DARI KIASANNYA

Pada hakekatnya wewaton tehnik pakeliran seni pedalangan yang demikian itu, tidak hanya sekedar membuat wewaton, akan tetapi wewaton tersebut mengandung arti yang lebih dalam lagi yaitu merupakan kias atau saloka yang mengandung mitologi jawa yang luhur itu adapun keterangannya demikian dasar terbagi tiga itu, mengandung maksud “triwikrama” yang artinya melangkah tiga kali : purwa, madya dan wasana/metu, manten, mati. Triwikrama mengandung pengertian kehidupan manusia di dunia, yang mengalami 3 masa : masa kanak-kanak, masa dewasa dan masa tua lalu kemudian wafat mitos tersebut mayakini benar-benar bahwa yang disebut mati itu sebenarnya hanya peristiwa berpisahnya badan halus dan kasar/raga dan sukma - jasmani dan rohani (roh) dalam mitos tersebut yang berfaham hindu surga itu ada 9 tingkatan untuk itu pagelaran seni pedalangan sering terdengar kata-kata “swarga tunda sanga” sedangkan surga tingkat kesembilan disebut “mokswa”

Sukma dari orang yang meninggal apabila dalam keadaan suci, pertama-tama masuk ke dalam surga tingkat pertama, untuk melanjutkan ke tingkat surga kedua sukma tersebut harus mengalami lahir lagi di dunia dan harus ditingkatkan lagi kesuciaannya dari pada wadah hidup yang pertama, dalam istilah Jawa disebut “ Tumimba Lahir “ / Reincaratie .

Dalam paham ini manusia tentu mempunyai keinginan untuk mencapai surga ke tingkat kesembilan yang disebut Muksa tadi, untuk diperlukan “ Tumimba Lahir “ sampai tujuh kali lagi. ( dalam sumber buku pewayangan sering kita jumpai kata-kata “ Manjanmo Kaping Pitu “ demikianlah wewaton jejeran tujuh kali dan adegan perang tujuh kali menurut pegelaran seni pedalaman gaya Yogyakarta merupakan perlambang Tumimba Lahir tujuh kali, untuk mendaptkan kesuciaan yang sempurna lalu muksa.

Arti dan lambang

 

Didalam pedalangan kita, kaya akan nilai-nilai . Nilai-nilai di dalam pedalangan diantaranya: 

 

nilai kepahlawanan contoh: tokoh Kumbakarna, Adipati Karna.

nilai kesetiyaan contoh: tokoh Dewi Sinta, Raden Sumantri (Patih Suwanda) dan sebagainya..

nilai keangkara murkaan contoh: tokoh Rahwana, Duryudana dan sebagainya.

nilai kejujuran  contoh: Tokoh Puntadewa dan sebagainya. dan sebagainya. dan sebagainya.

Di sini masih banyak nilai-nilai yang lain yang patut ditimba manfaatnya bagi kita semua. Arti lambang juga terdapat didalam pakeliran lewat lakon-lakon wayang. Kalau kita mengamati lakon Dewa Ruci di dalamnya mengandung lambang kehidupan manusia di dalam mencapai cita-cita hidup kita harus dapat melewati beberapa tantangan, kalau kita berhasil mencapainya kita akan mendapatkan buahnya.

 

Gunungan

 

Kalau kita melihat pagelaran wayang kulit pasti akan melihat gunungan, dan lebih sering disebut juga kayon. Dinamakan gunungan karena bentuknya mirip sepucuk gunung yang mencuat tinggi keatas. Adapun kita melihat gunungan yaitu pada saat pakeliran belum dimulai, gunungan ditancapkan tegak lurus di tengah kelir pada batang pisang bagian atas. Tetapi jika pakeliran telah dimulai maka gunungan ditancapkan pada simpingan bagian kanan dan kiri.

 

Gunungan terdapat pada setiap pagelaran wayang, misalnya: wayang purwa, wayang gedog, wayang krucil, wayang golek, wayang suluh dan sebagainya. Tetapi gambar gunungan kalau kita lihat juga banyak dijadikan simbol, atau suatu lambang.

 

Contoh:

Dalam lingkungan hidup atau sering disebut Kalpataru, digambarkan lambang sebuah kayon.

 

Kalau kita membedakan jenis kayon atau gunungan itu ada dua macam yaitu:

1.   Kayon Gapuran

2.   Kayon Blumbangan

 

Adapun ciri-ciri kayon gapuran adalah sebagai berikut :

1.   Bentuknya ramping

2.   Lebih tinggi dari kayon blumbangan.

3.   Bagian bawah berlukiskan gapura.

4.   Samping kanan dan kiri dijaga dua raksasa kembar yaitu Cingkarabala dan balaupata.

5.   Bagian belakang berlukiskan api merah membara.

 

Adapun ciri-ciri kayon blumbangan adalah sebagai berikut :

1.   Bentuknya gemuk

2.   Lebih pendek dari keyon gapuran

3.   Bagian bawah berlukiskan kolam dengan air yang jernih.

4.   Ditengah ada gambar ikan berhadap-hadapan ditengah kolam.

5.   Bagian belakang berlukiskan api berkobar merah membara biasanya juga ada lukisan kepala makara.

 

Untuk lebih jelasnya dapat kita melihat gambar kayon disamping kiri ini. Gunungan di dalam pegelaran wayang kulit mempunyai kegunaan yang penting sekali. Adapun guna kayon adalah sebagai berikut:

  1. Tanda dimulainya pentas pedalangan dengan dicabutnya kayon lalu diletakkan pada simpingan kanan dan kiri.
  2. Tanda pergantian adegan / tempat.

Contoh: Setelah adegan Astina akan diganti adegan Amarta biasanya diawali dengan memindahkan kayon atau memutar kayon lalu ditancapkan pada posisi semula.

  1. Untuk menggambarkan suasana.

Contoh : Suasana sedih dalam suatu adegan, kayon digerak-gerakkan diikuti ceritera dalang.

  1. Untuk menggambarkan sesuatu yang tidak ada wayangnya.

Contoh:Suatu ajian yang dikeluarkan dari badan tokoh wayang. Dewa tertinggi yang tidak ada wayangnya.

Misalnya Sang Hyang wenang dan sebagainya.

  1. Menggambarkan air, api, dan angin.

Contoh:Dari patet enem ke patet sanga di tandai dengan perubahan letak kayon.

Misalnya dari kayon condong kekiri dirubah gerak tegak lurus.

  1. Tanda berakhirnya pentas pakeliran yaitu dengan menancapkan kayon ditengah-tengah.

 

Gambar kayon didalamnya berlukiskan :

a.    Rumah atau balai yang indah dengan lantai bertingkat tiga.

b.   Dua raksasa kembar lengkap dengan perlengkapan jaga pedang dan tameng.

c.    Dua naga kembar bersayap dengan dua ekornya habis pada ujung kayon.

d.   Gambar hutan belantara yang suburnya dengan kayu yang besar penuh dengan satwanya.

e.    Gambar macan berhadapan dengan banteng.

f.    Pohon besar yang tinggi dibelit ular besar dengan kepala berpaling kekanan.

g.   Dua kepala makara ditengah pohon.

h.   Dua ekor kera dan lutung sedang bermain diatas pohon.

i.     Dua ekor ayam hutan sedang bertengkar diatas pohon.

 

Jadi kesimpulannya gambar kayon didalamnya sudah melambangkan seluruh alam raya beserta isinya mulai dari manusia sampai dengan hewan serta hutan dan perlengkapannya.

 

PARA DEWA (DEWA-DEWA)

Setelah kita menguraikan secara sederhana tentang gunungan maka mulai kita menginjak nama-nama dari pelaku wayang. Kita mulai dari nama-nama dewa. Jumlah dewa-dewa dan dewi-dewi sangatlah banyak. Di sini yang ingin kami ketengahkan hanyalah nama-nama dewa atau dewi yang sering digunakan di dalam setiap lakon wayang. Kita mulai dari Batara Guru.

 

BATARA GURU

Nama lain :

1.   Hyang jagad Pratingkah

2.   Sang Hyang catur buia

3.   Sang Hyang Manikmaya

Tempat : Kayangan Jonggirikaelasa

Istri : Dewi Uma

Anak :

1.Batara Indra

2.Batara Bayu

3.Batara Wisnu

 

4.Batara Brama

5.Batara Kala

6.Batara Sakra

 

7.Batara Mahadewa

8.Batara Asmara

 

Ayah Batara Guru : Hyang Tunggal

Keterangan :

Batara Guru adalah dewa yang merajai kayangan serta mengusai alam. Batara Guru pada saat dilahirkan berwajah tampan serta tanpa cacat. Karena kecongkakannya dan merasa bangga karena mempunyai wajah tampan dia akhirnya menerima hukuman dari Hyang tunggal serta dewa yang Agung dengan bertangan empat, bercaling, leher berwarna biru. Hal ini adalah buah dari perbuatannya. Batara Guru didalam ceritera pedalangan sering mengganggu dunia dengan menyamar menjadi manusia ingin menghancurkan Kyai Semar, Pandawa tetapi hal ini selalu kalah dengan kebajikan dan kejujuran yang akhirnya Hyang Guru minta maaf dan kembali kekhayangan.

 

BATARA NARADA

Nama lain : Kanekaputra

Tempat : adalah kayangan Sudukpangudaludal

Keterangan :

Batara Narada adalah ketua dari para dewa ia bertugas memimpin para dewa serta dewa yang dimintai pertimbangan oleh batara Guru dalam segala hal. Tugas lain adalah menyampaikan anugerah pada manusia serta mengamati kejadian di dunia. Asal mula batara Narada berparas elokvdan sakti yaitu dia ingin mengalahkan para dewa maka bertapa terus sehingga bertemu dengan dewa guru/Batara Guru.

Setelah terjadi bantah Batara Guru kalah. Akibat hal itu batara Guru selalu memanggil kakang. Batara Narada akhirnya berwajah buruk serta berbadan cebol karena pada suatu ketika mendapat umpat batara Gutu sehingga seperti bentuk gambar diatas. Batara Narada selalu melaksanakan tindakan kebenaran maka pada saat batara Guru bertindak salah selalu dilawannya.

 

BATARI DURGA

Tempat : Hutan Setra Gandamayit

Suami : Batara Kala

Bentuk : Raseksi yang ganas dan bengis

Keterangan:

Batari Durga dahulu adalah seorang putri yang cantik jelita berujud bidadari bernama dewi Uma. Ia sangat dicintai oleh Hyang Guru. Peristiwa itu terjadi pada saat Hyang Guru sedang rekreasi naik lembu Nandini melihat keindahan jagad raya, karena asyiknya betara Guru timbullah nafsu asmara dengan dewi Uma. Tetapi dewi Uma tidak mau karena mengingat sedang naik Lembu Nandini. Karena Batara Guru sangat bernafsu maka kamanya jatuh di laut. Yang akhirnya lahir Batara Kala. Setelah kejadian itu Dewi Uma diajak pulang. Di kayangan Batara Guru marah bukan kepalang karena marahnya Betari Uma disabda menjadi reseksi yang bengis dan disuruh kehutan Setra Gandamayit.

Mari kita melihat kembali pada kejadian yang lalu, pada saat Batara Guru akan memaksa Batari Uma. Maka Batari Uma mengutuk sikap Batara Guru seperti itu bagaikan raksasa. Maka jadilah Batara Guru mirip raksasa dengan mempunyai caling. Atas kejadian itu Batara Guru merasa masgul hatinya. Batari Durga dapat kembali ujut seperti sedia kala setelah diruat oleh satria bungsunya Pandawa yaitu raden Sadewa. Maka lakon itu disebut lakon Sudamala atau Durga ruwat.

Batari Durga di Setra Gandamayit memerintah para jin, iblis, banaspati, gandaruwo, engklek-engklek balung antandak dan sepadannya.

 

BATARA BRAMA

Tempat : Kayangan Deksina di dalam pedalangan sering disebut kayangan Argadahana.

Ayah : Batara Guru

Istri : Dewi Saraswati

Ibu : Batari Uma

Kesaktian : Dewa yang menguasai api. 

Keterangan:

Batara Brama pernah memberikan pusaka Alugara dan Nanggala kepada raden Kakrasana pada saat ia bertapa di pertapaan Arsonya. Maka seolah-olah Hyang Brama adalah guru dari raden Kakrasana. maka kalau kita lihat bentuk wayang Prabu Baladewa, raden Kakrasana mirip dengan bentuk wayang Batara Brama. Batara Brama selalu atau sering mengikuti perjalanan Batara Guru ke Ngarcapada / Bumi menjelma menjadi raja seberang dengan nama misal prabu Dewa Pawaka atau yang lain.

Hal ini dapat digagalkan oleh Semar. Sehingga kehendaknya ingin memusnahkan Pandawa atau membuat onar dunia tidak berhasil. Juga dapat dilihat dalam lakon lahirnya Wisanggeni. Tujuan Batara Drama akan mengawinkan putrinya Dewi Dresanala dengan Dewa Srani serta menceraikan radaen Arjuna. Hal ini dapat digagalkan oleh Semar dan para Pandawa. Jadi kesimpulannya bahwa semua ulah dewa jika salah akan kalah oleh tindakan manusia yang benar.

 

BATARA INDRA

Tempat : Kayangan Jonggirisaloka

Kesaktian :

Batara Indra mempunyai kekuasaan memerintah para Dewa atas perintah Hyang Guru. Batara Indra mempunyai keahlian berperang dan banyak mempunyai panah sakti.

Anak :

·      Dewi Tara

·      Dewi Tari

- Dewi Gagar Mayang

- Batari Suprada dan masih banyak lagi yang berwujud bidadari.

Ayah : Batara Guru

Ibu : Batari Uma

Keterangan :

Batara Indra mempunyai kekuasaan atas para dewa dan para bidadari di sorga. Selain itu sering memberikan anugrah atau hadiah pada siapa saja yang gemar bertapa dan membantu ketentraman dunia serta permintaan titah yang sedang bertapa.

Sebagai contoh: Raden Arjuna mendapatkan panah Pasopati sebagai panah sakti akibat dari dia bertapa dan membantu atas ketentraman di kayangan, sehingga panah tersebut berguna di dalam perang besar Baratayuda.

 

BATARA ANTABOGA

Kayangan : kayangan Saptapratala atau Saptabumi

Anak : Dewi Nagagini.

Keterangan :

Batara Antaboga adalah dewa ular maka disebut juga ujud naga besar. Hyang Antaboga mempunyai putri cantik jelita yang diperistri raden Werkudara. Peristiwa ini terjadi pada saat Pandawa ditipu Kurawa diajak berkumpul dan pesta. Tiba-tiba tempat tersebut dibakar oleh para Kurawa dalam pedalangan dalam lakon Balesigalagala. Pandawa tidak mati karena ditolong oleh garangan putih yaitu kajadian dari Hyang Antaboga. Akhirnya Pandawa selamat Werkudara dikawinkan dengan dewi Nagagini mempunyai keturunan raden Hanantareja.

 

BATARA KAMAJAYA

Tempat : Kayangan Cokrokembang

Putra dari : Batara Ismaya (Semar)

Istri : Batari Ratih

Keterangan:

Dewa ini berparas elok serta selalu rukun bersama istrinya. Maka dari itu oleh orang jawa dijadikan kegemarannya (idam-idaman) sampai pada cita-citanya. Kalau orang mempunyai putra atau putri diharapkan berwajah elok dan cantik. Hal ini terbukti di dalam acara tujuh bulan bayi di kandungan diadakan upacara mitoni yang dilambangkan pada cengkir (kelapa muda) berlukiskan Batara Kamajaya dan Batari Ratih.

 

BATARA SURYA

Putra dari : Semar (Batara Ismaya)

Kekuasaan : Dewa Matahari

Keterangan :

Batara Surya adalah seorang dewa yang menguasai gerak Matahari. Serta dalam lakon lahirnya Karna Betara Surya adalah salah satu dewa yang menurunkan raden Suryaputra dengan ibunya dewi Kunti.

 

BATARA BAYU

Tempat tinggal : Kayangan Panglawung

Ayah : Batara Guru

Ibu : Dewi Uma

Istri : Dewi Sumi

Kesaktian :

Batara Bayu mempunyai kesaktian angin dan ia menjadi dewanya hewan, raksasa, dan manusia.

Yang tersebut golongan putera dewa Bayu adalah :

Batara Bayu

Hanuman

Wrekodara Wil Jajalpaweka

Liman setubanda

 

Sarpa Nagakuawara

Garudha Mahambira

Begawan Maenaka

 

Keterangan :

Batara Bayu pernah menjadi raja di Mayapada di negara Medanggora, bergelar prabu Bhima. Pada ceritera Pedalangan dalam lakon Bhima Bungkus di situ terlukis putera Pandu yang masih berada dalam keadaan terbungkus, sebelum sang bayi berwujud sebagai layaknya bayi biasa, Batara Bayu masuk kedalam bungkus sang bayi dan memberinya busana seorang kesatria.

 

BATARA WISNU

Tempat : Kayangan Utarasagara

Ayah : Batara Guru

Ibu : Batari Uma

Isteri : Dewi Pertiwi

 

BATARA KALA

Kayangan : kayangan Selamangumpeng

Ayah : Batara Guru

Istri : Batari Durga

Keterangan :

Batara Kala lahir dari Kama salah yang jatuh dilaut pada saat Batara Guru rekrasi dengan Batari Uma (lihat hal Batari Uma). Batara Kala dilahirkan dalam wujud api yang berkobar-kobar yang makin lama makin besar. Hal ini membuat gara-gara di Suralaya, sehingga para dewa diperintahkan oleh Batara Guru untuk mematikan api yang berkobar-kobar tetapi tidak mati, malah makin lama makin besar dan naik ke Suralaya menanyakan bapaknya.

Karena Hyang Guru kwatir kalau kayangan rusak maka Batara Guru mengakui kalau Kala adalah anaknya. Maka diberi nama Batara Kala dan Batara Kala minta makanan, maka Batara Guru memberi makanan tetapi ditentukan yaitu :

1.   Orang yang mempunyai anak satu yang disebut ontang-anting

2.   Pandawa lima anak lima laki-laki semua atau anak lima putri semua.

3.   Kedono kedini, anak dua laki-laki perempuan jadi makanan Betara Kala.

Untuk menghindari jadi mangsa Batara Kala harus diadakan upacara ruwatan. Maka untuk lakon-lakon seperti itu di dalam pedalangan disebut lakon Murwakala atau lakon ruwatan. Di dalam lakon pedalangan Batara Kala selalu memakan para pandawa karena dianggapnya Pandawa adalah orang ontang anting. Tetapi karena Pandawa selalu didekati titisan Wisnu yaitu Batara Kresna. Maka Batara Kala selalu tidak berhasil memakan Pandawa.

 

BATARA YAMADIPATI

Putra dari : Semar (Betara Ismaya)

Tempat : Kayangan Argodulamilah

Keterangan :

Betara Yamadipati, dewa yang ditugasi mencabut nyawa dan menjaga neraka. Adapun wajah Yamadipati berbentuk manusia dan wajah raksasa yang mengerikan. Yamadipati juga terseret pada perbuatan tidak benar tetapi setelah direnungkan tidak baik, maka berbelok pada posisinya semula.*

 

 

JENENGE RATU LAN PANDHITA

 

  1. Prabu Arjuna Sasrabahu          ratu ing            Maespati
  2. Prabu Baladewa                      ratu ing            Mandura
  3. Prabu Basudewa                     ratu ing            Mandura
  4. Prabu  Bomanarakasura          ratu ing            Trajutrisna
  5. Prabu Drupada                        ratu ing            Cempala
  6. Prabu Dasarata                        ratu ing            Ngayodya
  7. Prabu dasamuka                      ratu ing            Ngalengka
  8. Prabu Drestarata                     ratu ing            Ngastina
  9. Prabu Kresna                           ratu ing            Dwarawati
  10. Prabu Karna                            ratu ing            Ngawangga
  11. Prabu Maswapati                    ratu ing            Wiratha
  12. Prabu Niwatakawaca              ratu ing            Iman Imantaka
  13. Prabu Pandhu Dewanata        ratu ing            Ngastina
  14. Prabu Puntadewa                    ratu ing              Ngamarta
  15. Prabu Ramawijaya                  ratu ing              Pancawati
  16. Prabu Salya                             ratu ing              Mandraka
  17. Prabu Sugriwa                         ratu ing            Guwakiskendha
  18. Prabu Suyudana                      ratu ing              Ngastina
  19. Begawan Abiyasa       pratapane ing   Saptaarga
  20. Resi Bima                    pratapane ing   Talkandha
  21. Pandhita Duma           pratapane ing     Sokalima
  22. Begawan Mintaraga    pratapane ing   Indrakila
  23. Resi Palasara               pratapane ing   Ratawu   
  24. Resi Subali                  pratapane ing   Guwakiskendha

 

JENENGAN SATRIYA LAN KASATRIYANE

 

  1. Abimanyu                   : Satriyo ing Plengkawati
  2. Anoman                      : Satriyo ing Kendhalisada
  3. Arjuna                         : Satriyo ing Madukara
  4. Aswatama                   : Satriyo ing Sokolima
  5. Antarejo                      : Satriyo ing Jangkarbumi
  6. Dresthajumeno            : Satriyo ing Cempalarejo
  7. Dursasana                    : Satriyo ing Banjarjungut
  8. Gatutkaca                    : Satriyo ing Pringgodani
  9. Jayadrata                     : Satriyo ing Banakeling
  10. Kumbakarana              : Satriyo ing Penglebur Gangsa
  11. Lesmana Mandra        : Satriyo ing Saroja Binangun
  12. Nakula lan Sadewa     : Satriyo ing Sawojajar
  13. Samba                         : Satriyo ing Paranggaruda
  14. Setiyaki                       : Satriyo ing Lesanpura
  15. Sengkuni                     : Satriyo ing Plasajenar
  16. Werkudara                  : Satriyo ing Jodhipati

 

SENJATA LAN AJI-AJI

  1. Antareja          :   upas anta
  2. Aswatama       :   senjata cundhamanik
  3. Baladewa        :   senjata kunta, gada nanggala lan alugara
  4. Dasamuka       :   senjata candrasa, pedhang sokayana aji-aji pancasona
  5. Gathutkaca      :   caping basunandha, kotang antakusuma. Aji-aji narataka
  6. Indrajit            :   senjata nagapasa lan wimohanastra
  7. Janaka             : panah pasopati, soratama, ardhadhedhali, keris pulanggeni,                            kalanadhah.aji-aji sepiangin
  8. Jayadrata         :   gada rujakbeling
  9. Karna              :  senjata kunta, keris kaladite, panah wijayandanu.aji-aji kalalupa
  10. Kresna             :   senjata cakra. aji-aji wijayakusuma
  11. Kumbakarna    :   aji-aji gedhongmenga, pelakgelak sakethi
  12. Puntadewa      :   aji-aji kalimasada, songsong tunggulnaga
  13. Ramawijaya    :   panah gunawijaya
  14. Salya               :   aji-aji candhabirawa
  15. Subali              :   aji-aji pancasona

16. Werkudara      :   gada rujakpolo, lukitasari, kuku pancanaka

 

Dari: http://www.jawapalace.org 

 

 

KEMBALI >>