UANG

RUPEE

Berbentuk bulat pada sisi muka tertera tulisan Jawa KEMPENI HINGLI-JASA HING SURA-PRINGGA,di bagian atas ada huruf Z dan dibawahnya ada gambar sekuntum bunga.

Mata uang ini di buat di surabaya 1228 pada saat Inggris menguasai kepulauan indonesia 1811-1816..

Dari ungkapan sejarah ternyata sejak jaman dahulu bangsa Indonesia telah mengenal uang sebagai alat tukar, hal ini dapat dibuktikan dengan bentuk-bentuk uang kuno yang diketemukan yang terdapat di museum pusat Jakarta pada bagian NUMISMATIKA.

Disini dapat sisaksikan koleksi mata uang dari dahulu hingga kini ditinjau dari bahannya mata uang tersebut dapat dibedakan menjadi 4 jenis : Emas, Perak, tembaga dan Timah. Dari bentuknya dapat digolongkan : bentuk setengah bulat, bulat dan segi empat, ciri-ciri yang menyatakan bahwa itu mata uang dapat diketahuai dari ukuran timbangan yang sama, bentuk yang standar, praktis, serta mempunyai tanda tera sebagai tanda pengesahan dari raja / kerajaan yang mengeluarkannya. Adanya berbagia macam uang yang dipergunakan di nusantara ini sekaligus menunjukan hubungan antara kerajaan-kerajaan dalam perdagangannya telah berkembang dengan baik, adapun sistem pembayaran dan penukaran dengan mata uang di Indonesia melalui masa-masa sbb :

1.      Pada Zaman Hindu jawa : dikenal mata uang seperti : Kresnala yang berasal dari kerajaan Jenggala ( 896 – 1158 ) terbuat dari emas murni. Selain itu ada mata uang hindu berukuran kecil serta uang gobong yang berbentuk bundar terbuat dari kuningan dan tembaga konon uang tresebut di datangkan dari pegadang Cina yang pada waktu itu, awalnya belum diketahui kegunaaannya, di duga sebagai syarat kelengkapan korban di kuil-kuil zaman Majapahit.

2.      Pada Zaman Abad 16 dan sesudahnya, didareh Banten mata uang terbuat dari tembaga bentuknya bulat berlubang, persegi enam ditengahnya dan bertuliskan “ Pangeran Ratu “ .mata uang ini tidak diketahui tahun pembuatan dan zamannya. Namun jelas berlaku sebelum masuknya agama Islam. Selain itu terdapat juga yang berbentuk lebih kecil dengan tulisan arab “ Pangeran ratu Ing Bantam “. uang ini berlaku zaman masuknya agama Islam pada zaman Sultan Hassanudin dari kerajaan Goa Sulawesi tahun 1667, yang terkenal karena perjanjian Bongaaisch-nya, yang terbuat dari emas putih namun jarang diketemukan. Sedang di kota Makasar tahun 1700 juga tredapat mata uang dari kerajaan Goa yang berbahan emas murni. Di Sulawesi Tenggara kerajaan Buton yaitu Bida dan Kampua terdapat mata uang yang berbahan kain yang ditenun oleh putri-putri raja ( Lapjesgeld ) mata uang ini setiap tahun diganti dan uang lama ditarik dan dimusnahkan, sedang yang memalsukan diancam hukuman mati.

Di Kalimantan ditemukan mata uang terbuat dari tembaga 1812 dari zaman kerajaan Banjarmasin. Di Madura ( sultan sumenep ) mempergunakan potongan-potongan mata uang Spanyol ( Spaanse realen ) mata uang Belanda dan mata uang lainnya. Serta masih ada mata uang yang berjenis lain yang dibubuhi stempel yang bermotif kembang, angka 600 dan tanda pengenal saudagar.

Di aceh terdapat Acehsche mas yaitu mata uang emas dari kerajaan Pasai ( 1297 – 1326 ) dikeluarkan zaman Sultan Muhamad Malik Anzahir, ada juga mata uang yang terbuat dari perak yang ditulis dengan teks arab ( 1172 ) mata uang tersebut didapt oleh P.C Arends dari salah seorang perwira. Yang ternyata uang semacam itu dilebur uang dibuat peluru.

3.      Pada zaman VOC ada mata-uang yang berasal dari Cina bentuknya berlubang persegi empat. Mata-uang ini tidak dianggap sebagai alat pembayaran, tetapi alat pembayaran, tetapi sebagai “tempel penningen” yaitu benda untuk upacara pengorbanan pada kuil-kuil. Mata uang ini masuk ke Pulau Jawa bersamaan dengan mata-uang cina lainnya sebelum masuknya bangsa Portugis dan Belanda. Sedangkan tujuan dari mata uang ini tidak diketahui dengan pasti namun sudah tersebar luas diseluruh kepulauan Indonesia dan pengaruhnya sangat besar terutama pada upacara-upacara sosial. Selain mata uang tersebut diatas, masih ada lagi mata uang dengan ukuran besar terbuat dari tembaga dicampur dengan timah putih, uang inipun berasal dari Cina. Pada tahun 1596 bangsa Belanda datang di Batam dan merekalah yang menemukan mata uang ini, sedangkan waktu itu mata uang pribumi belum ada. Sebelum tahun itu saudagar-saudagar Cina memasukkan mata uang ini sebagai alat pembayaran atas rempah-rempah, sedangkan asal usul sesungguhnya mata uang ini tidak diketahui. Selain itu diperkirakan pada tahun 1600 bagsa Spanyol dan Portugis datang ke pulau Jawa dengan mambawa “Real Batu” yaitu mata uang perak yang bentuknya kasar dan tak teratur.

4.      Sejak jaman penjajahan Belanda di Indonesia pada abad ke-18 di Indonesia beredar mata uang ringgit dari negeri Belanda yakni:

-        Seri Raja Willem der Nederladen tahun 1840

-        Seri Raja Willem II der Nederladen tahun 1848

-        Seri Raja Willem III der Nederladen tahun 1865

-        Seri Ratu Wilhelmina der Nederladen tahun 1930

Mata uang-mata uang ini terbuat dari logam, selain dipakai didunia perdagangan, digunakan untuk pembayaran-pembayaran khusus didalam upacara adat perkawinan di Sumatera Selatan. Karesidenan Palembang (daerah Komering dan Pasemah). Pemakaian uang asing lainnya berdasarkan atas adat didaerah tersebut dianggap oleh masyarakat sebagai turun gengsi. Berhubung dengan adat kebiasaan macam inilah, maka sering kali uang logam ini disewakan pada orang yang tak mampu dan kemudian dikembalikan pada pemiliknya pada upacara adat telah selesai.

Juga ada uang logam (ringgit) yang dicap oleh suatu Perusahaan Dagang yang besar dengan maksud sebagai “jaminan”. Suatu hal yang menarik dalam abad ke-19 yaitu adanya mata uang tertentu dimana Pemerintah Hindia Belanda dalam tahun 1934 berkeinginan untuk mengedarkan pecahan uang logam yang bernilai seperempat (0,25) Cent. Uang logam yang amat rendah nilainya ini meskipun sudah dicetak dan dibuat, akhirnya tidak jadi diedarkan, karena dikhawatirkan akan adanya dan juga untuk menghindari tuduhan bahwa Pemerintah Jajahan pada saat itu ingin lebih menekan lagi kehidupan rakyat Indonesia yang sebelum itu telah dikuras penghasilannya sehingga bertambah miskin dan tertindas. Perlu diketahui bahwa satu-satunya mata uang Pemerintah Belanda di Indonesia yang terbuat dari perak bernilai 1/20 (seperdua puluh) Gld = 5 Cent (tahun 1815). Sesudahnya mata uang jenis ini dibuat lagi dari nikkel yakni pada tahun 1913, 1921 dan 1922. Hal lain yang menarik ialah adanya mata uang yang khusus berlaku dilingkungan perkebunan, misalnya :

1. Kisaran : Unternehmung (Deli-Sumatera) dengan nilai nominal setengah tahun1888 dolar  

2.Soembar doeren: di Pasuruhan-jawatimur dengan nilai 50 cent terbuat dari tembaga

Mata uang sekarang

Sidang kabinet terbatas atau sidang stabilisasi ekonomi tanggal 10 agustus 1971 menetapkan bahwa setiap departemen hanya mempunyai satu hari bersejarah saja yang layak diperingati setiap tahun.

Berdasarkan keputusan tersebut kemuadian Menteri Keuangan Republik Indonesia dengan keputusan No. Kep 202/MK/11/4/1973 tanggal 7 april 1972 menetapkan tanggal, 26 oktober sebagai “ Hari Keuangan “ Penetapan tanggal tersebut diambil dari sejarah mulai berlaku dan beredarnya uang ORI ( Oeang Repoeblik Indoensia ) pada tanggal, 26 oktober 1946, peringatan pertama kali hari keuangan diadakan pada tahun 1972 yang lalu

Untuk sejenak mengenang kembali kejadian tanggal, 26 oktober 1946 yang lalu, marilah kita ikuti kisahnya.

Tepat pada jam 12 tengah malam tanggal 26 oktober 1946, menteri keuangan republik Indonesia pada waktu itu menetapkan uang ORI mulai berlaku dan beredar diseluruh wilayah republik Indonesia, berdasarkan undang-undang no.17 tahun 1946 dan No.19 tahun 1946, dengan penetapan tersebut maka negara republik Indoensia telah mempunyai mata uang sendiri sebagai salah satu atribut suatu negara yang merdeka dan berdaulat.

Sejak tanggal, 26 oktober 1946 tersebut, uang ORI mengalami perkembangan yang mengesankan dan dicetak di pusat-pusat perjuangan kemerdekaan Bangsa Indonesia sesuai dengan gerak dinamika perjuangan bangsa, maka uang ORI yang beredar di Indonesia waktu itu bermacam-macam jenisnya, tidak seperti pada dewasa ini dimana hanya beredar satu jenis mata uang saja yaitu “ Rupiah “ pada saat itu kita mengenal uang ORI yang beredar di Jawa, uang ORIPS di Sumatera, ORITA di Tapanuli, ORIPSU dan ORIPBA di Aceh. Meski uang tersebut di cetak dengan alat sederhana dan menggunakan klise dari kayu namun uang ORI telah melambangkan kesatuan tekad bangsa dan dapat menjalin perasaan seperjuangan serta telah berfungsi dengan baik sebagai alat tukar serta mendaptkan kepercayaan sepenuhnya dari rakyat. Dengan terbentuknya RIS ( republik Indonesia Serikat 1950 ) uang ORI tidak berlaku lagi dan diganti yang sekarang

JARAN DHOR

Jaran dhor, /jaran kepang : sebuah tontonan rakyat  yang tumbuh dan berkembang di banyak wilayah di Jawa Tengah khususnya di belahan tengah dan timur. Barangkali sudah agak sulit melacak kapan dan dimana kesenian “JARAN DHOR” itu muncul untuk pertama kalinya.

Bentuknya sangatlah sederhana, dengan kostum yang sangat sederhana pula dan iringan yang hanya terdiri dari beberapa ricikan gamelan antara lain: saron, kempul, gong, kendang, dan ada yang ditambah angklung atau ricikan lain.

Dari penampilannya yang demikian, dapatlah diketahui bahwa Jaran Dhor hanya hidup di ingkungan masyarakat kelas bawah, akan tetapi justru memiliki ciri-ciri kerakyatan yang kental.

Sampai pada dekade tahun enampuluhan, masih banyak kelompok Jaran Dhor yang menggembara dari kampung ke kampung sekedar mencari nafkah dengan pertunjukkan kemampuan bermain Jaran Dhor.

Menari di atas kuda kepang dengan gerak-gerak yang unik dan kadang lucu, dengan hiasan suara cemeti, dibumbui dengan berbagai atraksi yang agak berbau magis (bermain dengan api, makan kaca/beling, kekebalan dsb.) menjadi ciri khas dari atraksi Jaran Dhor.

Jaran Dhor dengan segala keberadaannya tetap memiliki kekuatan tersendiri. Ia dapat menjadi atraksi yang menarik baik untuk konsumsi pariwisata maupun konsumsi masyarakatnya sendiri.

 

 

KEMBALI >>