WAYANG

 

Wayang adalah hasil kesenian warisan nenek moyang bangsa Indonesia yang tersebar dipelosok daerah dan masih dilestarikan sampai saat ini. Bentuk karya seni ini diakui “adiluhung”, karya seni yang padat dengan filosofi, nilai simbolis, nilai historis, dan mencakup beberapa cabang seni. Wayang disampingsebagai tontonan juga tuntunan, bukan sekedar bentuk yang indah dan menyenangkan, tetapi mempunyai nilai khusus bagi bangsa Indonesia umumnya dan masyarakat Jawa pada khususnya.

Istilah wayang sendiri berasal dari kata “wayangan” yang berarti bayangan. Secara mendalam arti tersebut memang benar, wayang itu mempertunjukkan bayangan kehidupan manusia yang terjalin dalam lakon yang dipegelarkan oleh ki dalang diiringi gamelan.

 

GAYA WAYANG

Seni Wayang berkembang menurut perkembangan zaman dan daerah serta masyarakat pendukungnya, sehingga terciptalah bermacam-macam bentuk dan gaya wayang sesuai dengan apresiasi dan kreasi seniman-seniman daerah setempat. Maka timbullah gaya-gaya seperti:

a.      Gaya Surakarta = Jaka Penatas

b.      Gaya Yogyakarta = Jaya Prana

c.      Gaya Kedu = Atak

d.      Gaya Prayung = Bagus Riwong (Prayungan)

e.      Gaya Banyumas

f.        Gaya Cirebon

g.      Gaya Jawa Timur

h.     Gaya Bali

i.        Gaya Sasak (Lombok)

 

Catatan:

Jayaprana numpang pada keluarga Atak (daerah Wonosobo) punya anak bernama Sutiyah. Sedangkan Jaka Penatas kawin dengan Sutiyah Punya anak bernama Bagus Riwong.

 

·         Jaya Prana       : gaya orang menari (andhadap), terkenal dengan motif drenyeman

·         Jaka Penatas   : gaya orang berdiri

·         Atak                   : gaya/cirinya pendek tapi gagah

·         Bagus Riwong   :     gabungan gaya Jaya Prana, Jaka Penatas, dan Atak. Terkenal dengan motif sungging bludiran.

 

Jaya Prana adalah seorang dayang P. Mangkubumi dan dianggap sebagai bapak Wayang Gagrak Yogyakarta.

 

Ciri Gagrak Yogyakarta:

1.      gayanya seperti menari.

2.      badan bunteg (gemuk) pada gagahan

3.      Tangan lebih panjang hampir menyentuh jari kaki.

4.      gagah dan ekspresif serta dinamis.

 

MACAM-MACAM WAYANG

            Ada beberapa wayang yang kita jumpai dan bermacam-macam pula bahan yang membentuknya. Beberapa macam tersebut sebagai berikut:

a.      Wayang Purwa

      Yaitu wayang kulit yang membawakan lakon atau ceritera dari kitab Mahabarata, Ramayana dan Lokapala.

b.      Wayang Madya.

      Yaitu wayang kulit yang membawakan lakon sesudah zaman Prabu Parikesit di Astina, Sebelum kraton wamenang.

c.      Wayang Gedog

      Yaitu wayang kulit yang mengambil lakon dari cerita babad kediri sampai majapahit di Jawa

d.      Wayang Klithik

      Yaitu wayang yang bentuknya seperti wayang kulit, tetapi terbuat dari kayu pipih. Mengambil lakon babad tanah Jawa di zaman Kediri dan Majapahit dan Pajajaran.

e.      Wayang Suluh

      Yaitu wayang kulit yang mengambil lakon dari babad tanah Jawa sejak zaman Demak dampai Mataram

f.        Wayang Kancil

      Yaitu wayang yang terbuat dari kulit seperti manusia biasa (digambar dari samping), membawakan lakon tentang kejadian sehari-hari (digunakan sebagai media penerangan masyarakat.

g.      Wayang Menak

      Yaitu wayang yang berbentuk bobeka kayu dan diberi pakaian, ceriteranya mengenai babad Menak (Umar Maya, Umar Madi, dll)

h.     Wayang Golek

      Yaitu wayang yang berbentuk bobeka kayu dan diberi pakaian, ceriteranya diambil dari Kitab Mahabarata dan Ramayanan memakai bahasa Sunda (Jawa Barat)

i.        Wayang Beber

      Yaitu gambar wayang yang dilukiskan pada kain putih/kertas terdiri dari 4 gulung yang berisi 16 adegan.

j.        Wayang Wong/Orang

      Yaitu wayang yang diperankan oleh orang diatas panggung dengan tonil dalam pementasannya, ceritanya diambil dari kitab Mahabarata dan Ramayana.

k.      dll

 

 

KITAB MAHABARATA DAN RAMAYANA

 

A.     MAHABARATA

Terdiri dari 18 Purwa, yaitu:

1. Adi Parwa

10. Sauptika Parwa

2. Sabda Parwa

11. Stri Parwa

3. Wana Parwa

12. Canti Parwa

4. Wirata Parwa

13. Anuscasana Parwa

5. Udyogo Parwa

14. Acwametika Parwa

6. Bhisma Parwa

15. Acramawastika Parwa

7. Drona Parwa

16. Mausola Parwa

8. Karna Parwa

17. Mahaprasthanika Parwa

9. Salya Parwa

18. Swargarahana Parwa

 

B.    RAMAYANA

Terdiri dari 7 Kanda, yaitu:

1. Bala Kanda

5. Saudara Kanda

2. Ayodya Kanda

6. Yuda Kanda

3. Aranya Kanda

7. Uttara Kanda

4. Kiskenda Kanda

 

 

            Pementasan lakon wayang kulit umumnya semalam suntuk, mempunyai suatu ciri khas yang tidak terdapat pada pementasan jenis kesenian yang lain. Dalam suatu pagelaran wayang sekaligus dapat kita saksikan hampir segala cabang kesenian dipaparkan yaitu:

a. Seni Musik

e. Seni Tari

b. Seni Suara

f. Seni Sastra

c. Seni Rupa

g. Seni Drama

d. Seni Lawak

 

 

            Disamping itu, ada ciri khas lagi yang tidak terdapat pada jenis kesenian lainnya. Pada setiap pagelaran wayang kulit selalu disajikan hampir semua aspek kehidupan masyarkat di muka bumi ini. Mulai dari segi ketatanegaraan sampai kehidupan rakyat kecil sehari-hari, dari segi pendidikan sampai soal-soal keagamaan, dari soal-soal keberanian para pahlawan sampai soal-soal kejahatan. Pendek kata, seluruh kehidupan manusia ini secara bulat dan lengkap diproyeksikan oleh ki dalang pada layar putih yang merupakan arena pementasan wayang itu.

 

WAYANG GAYA BARU

            Wayang juga mengalamai masa perkembangan, baik mengenai ceriteranya maupun jenisnya. Wayang-wayang tersebut disebut wayang kreasi baru, yaitu:

1.      Wayang Dupara

Ciptaan RM Danuatmojo dari Surakarta, mementaskan ceritera-ceritera kerajaan Demak, Pajang, Mataram hingga Kartasura.

2.      Wayang Menak

Ciptaan Kiai Trinodipo dari Baturetno Surakarta, Pada masa pemerintahan Sri mangkunegara VII tahun 1916 – 1944. bentuknya seperti wayang kulit/purwa dan ceritera diambil dari serat Menak atau sastra Persia

3.      Wayang Ukur

Ciptaan Sukasman dari Yogyakarta tahun 1972, bentuk wayang purwa dengan busana dan atribut diubah (kreasi atau kontemporer) ceritera diambil dari Mahabarata dan Ramayana.

4.      Wayang Wahyu, Wayang Shadat, dan Wayang Suluh

Ini merupakan prakarsa para rohaniawan dan ulama, digunakan sebagai media dakwah/penerangan

a. Wayang Wahyu   =          diciptakan oleh Brother Temotheus marji Subroto dari Malang pada tahun 1960

b. Wayang Shadat   =          diciptakan oleh Suryadi warnosuharjo dari Klaten Jateng pada tahun 1985.

c. Wayang Suluh  = diciptakan Oleh RM Sutarto Harjowahono dari Solo pada thaun 1920 dan dipopulerkan pada tahun 1946.

 

 

( Drs. Djonny Judanto )

 

 

 

KEMBALI >>